Analisis Kualitas Perairan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia Air Laut

Nama: Liya / E1I023001 / A

Mata Kuliah : Metode Analisis Kualitas Air

Dosen Pengampu : Dr. Yar Johan S.Pi., M.Si.

 

Analisis Kualitas Perairan Bolaang  Mongondow, Sulawesi Utara Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia Air Laut

 

PENDAHULUAN

Perairan Bolaang Mongondow yang terletak di Sulawesi Utara adalah area pesisir dan muara yang memiliki signifikansi besar bagi kehidupan masyarakat, terutama dalam bidang perikanan. Wilayah ini dipengaruhi oleh kegiatan di darat dan di laut karena berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi dan menerima aliran dari beberapa sungai. Situasi ini menjadikan kualitas perairan sangat rentan terhadap perubahan, terutama akibat aktivitas manusia seperti pelabuhan, kegiatan perikanan, transportasi laut, dan pembuangan limbah rumah tangga. Oleh karena itu, penelitian mengenai kualitas air laut menjadi penting untuk memahami keadaan perairan dan pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup biota laut.

Menurut Pratama dan Rahmawati, (2024) Penurunan mutu air laut di pesisir Indonesia, terutama akibat fenomena eutrofikasi dan polusi logam berat, berpengaruh besar terhadap keragaman ikan serta hasil tangkapan perikanan. Elemen-elemen penting seperti suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut (DO), dan kadar nutrien dianalisis untuk mengevaluasi kondisi lingkungan laut yang berhubungan dengan hasil perikanan. Penurunan mutu air sangat berkaitan dengan masuknya zat pencemar yang berasal dari aktivitas manusia, baik di daratan maupun di laut, yang secara keseluruhan mengurangi produktivitas ekosistem dan keberlanjutan perikanan di daerah setempat.

Menurut Delis dkk., (2024) Kawasan pantai Ketapang di Provinsi Lampung mencerminkan pola umum perubahan kualitas air di area pesisir yang secara langsung dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Penelitian ini mengevaluasi parameter kualitas air laut dan tingkat pencemaran guna menilai hubungan antara input dari daratan, termasuk limbah rumah tangga dan kegiatan ekonomi di pesisir, serta kondisi fisika-kimia lingkungan laut yang ada. Temuan penelitian menunjukkan adanya variasi pada parameter kualitas air yang dipengaruhi oleh musim dan faktor manusia, serta memperlihatkan perbedaan tingkat pencemaran di berbagai zona pesisir.

Permasalahan Kualitas Air di Perairan Bolaang Mongondow

Masalah utama terkait kualitas air di kawasan Bolaang Mongondow berhubungan dengan masuknya zat pencemar dari daratan dan aktivitas manusia di area pantai. Sungai membawa limbah yang bersumber dari bahan organik dan anorganik, sedimen, serta zat gizi seperti nitrat dan fosfat ke dalam laut. Selain itu, kegiatan di pelabuhan, penggunaan perahu nelayan, dan permukiman di tepi laut bisa meningkatkan pencemaran air. Keadaan ini bisa mengurangi kadar oksigen terlarut, meningkatkan jumlah nutrien yang berlebihan, serta menyebabkan eutrofikasi yang dapat membahayakan kehidupan laut jika tidak dikelola dengan baik. Menurut Peng Zhang dkk. (2023) Pola nutrisi (DIN dan DIP) serta keadaan eutrofikasi di kawasan pesisir Tieshan Bay di Laut China Selatan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa limpasan nutrisi dari daratan meningkatkan kadar nitrogen dan fosfor di perairan pesisir, yang berdampak negatif terhadap kualitas air serta memicu proses eutrofikasi yang dapat menyebabkan gangguan ekosistem lebih lanjut. Nutrisi yang berlebih ini berhubungan langsung dengan pertumbuhan fitoplankton yang melampaui batas, yang kemudian dapat menurunkan tingkat oksigen terlarut akibat aktivitas respirasi dan proses dekomposisi mikroorganisme setelah fitoplankton tersebut mati. Temuan ini konsisten dengan keadaan di perairan muara seperti Bolaang Mongondow, yang juga menerima masuknya nutrisi dari berbagai sungai serta dampak dari kegiatan manusia di sekitar pesisir.

Menurut Yudhistira dkk. (2022) Di kawasan pantai Indonesia, terlihat bahwa aktivitas pelabuhan mempengaruhi perubahan kualitas air, dengan tercatatnya peningkatan konsentrasi klorofil-a (sebagai tanda eutrofikasi) di sekitar lokasi pelabuhan setelah pelabuhan mulai beroperasi. Meningkatnya klorofil-a menunjukkan adanya peningkatan biomassa fitoplankton yang berkaitan dengan bertambahnya nutrien dan gangguan fisik serta kimiawi di perairan pesisir. Ini menunjukkan bahwa selain masuknya nutrien dari sungai, kegiatan laut seperti pelabuhan dan transportasi maritim juga bisa memperburuk keadaan eutrofikasi dan kualitas air. Penelitian ini menyediakan landasan bahwa aktivitas manusia di pesisir Indonesia (termasuk pelabuhan dan operasi kapal) berperan dalam menciptakan kondisi eutrofikasi lokal yang mempengaruhi kesehatan perairan. Menurut Li dkk. (2024) menganalisis kadar nutrisi dan logam berat di daerah pantai Kota Yantai (China). Studi ini menemukan bahwa aliran sungai yang menuju laut membawa sejumlah besar nitrat (NO₃⁻) dan fosfat (PO₄³⁻) ke perairan pantai, yang mengakibatkan tingginya tingkat eutrofikasi di area tersebut. Nutrisi ini kemungkinan besar berasal dari aliran permukaan yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pergeseran ke pemukiman, pembuangan limbah rumah tangga dan industri, serta aliran sungai yang membawa nutrisi dari wilayah hulu. Faktor-faktor yang disebabkan oleh manusia ini berkontribusi pada penurunan kualitas air laut dan meningkatkan tekanan ekologis pada ekosistem pesisir, termasuk potensi pembentukan zona hipoksia (kadar oksigen terlarut yang rendah).

Parameter Kualitas Air yang Digunakan

1)  Suhu, Suhu air laut berkisar antara 28,6–29,3°C, masih berada dalam batas optimal bagi kehidupan biota laut. Suhu yang stabil menunjukkan kondisi perairan masih mendukung proses metabolisme organisme laut.

2)  Salinitas, Salinitas berkisar 28,0–32,5‰, relatif lebih rendah di dekat pantai akibat pengaruh air tawar dari sungai. Walaupun lebih rendah dari salinitas laut normal, nilainya masih memenuhi baku mutu untuk biota laut

3)  Kecerahan, Kecerahan perairan berada pada kisaran 7,0–14,5 meter, menunjukkan kondisi perairan masih cukup jernih. Namun, kecerahan lebih rendah ditemukan di sekitar muara sungai akibat tingginya sedimen dan partikel tersuspensi

4)  pH, Nilai pH berkisar antara 7,36–7,80, yang berarti perairan bersifat netral hingga sedikit basa. Nilai ini masih sesuai dengan standar baku mutu air laut dan aman bagi organisme laut

5)  Oksigen Terlarut (DO), Kadar oksigen terlarut berada pada kisaran 4,83–6,41 mg/l. Nilai ini tergolong tercemar ringan, terutama di daerah dekat pantai, yang diduga akibat tingginya aktivitas penguraian bahan organik yang membutuhkan oksigen

6)  Fosfat, Konsentrasi fosfat berkisar 0,005–0,0230 mg/l, dengan nilai lebih tinggi di dekat dasar perairan. Peningkatan fosfat diduga berasal dari limbah domestik dan aktivitas manusia di sekitar teluk dan pelabuhan

7)  Nitrat, Kadar nitrat berkisar 0,005–0,0090 mg/l, masih berada di bawah ambang batas baku mutu. Namun, konsentrasi nitrat cenderung lebih tinggi di dekat pantai dan dasar perairan akibat pengaruh sedimen dan aliran sungai


Status Mutu Perairan Berdasarkan Indeks Pencemaran

Berdasarkan perhitungan Indeks Pencemaran (IP), kualitas perairan Bolaang Mongondow berada pada kategori kondisi baik hingga tercemar ringan dengan nilai IP antara 0,45–1,37. Lokasi yang tergolong tercemar ringan terutama berada di sekitar stasiun yang dekat dengan muara sungai dan pelabuhan, yang menunjukkan adanya pengaruh aktivitas manusia terhadap kualitas air.

Solusi dan Upaya Pengelolaan Kualitas Air

Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas perairan Bolaang Mongondow, beberapa solusi yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Pengendalian limbah daratan, terutama limbah domestik dan aktivitas pelabuhan agar tidak langsung masuk ke laut.
  2. Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu untuk mengurangi masuknya sedimen dan nutrien berlebih ke perairan laut.
  3. Pemantauan kualitas air secara berkala dengan parameter fisika dan kimia untuk mendeteksi perubahan kualitas perairan sejak dini.
  4. Peningkatan kesadaran masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga lingkungan laut agar   keberlanjutan sumber daya perikanan tetap terjaga

Kesimpulan

Secara umum, kualitas perairan Bolaang Mongondow masih tergolong baik dan layak untuk kehidupan biota laut. Nilai parameter fisika-kimia masih berada dalam batas baku mutu, meskipun terdapat indikasi pencemaran ringan di beberapa lokasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan dan pemantauan berkelanjutan agar kualitas perairan tetap terjaga dan tidak mengalami degradasi di masa mendatang

 

Referensi

Delis, P. C., Yuliana, D., dan Kartini, N. 2024. Study of Water Quality and Pollution Level at Ketapang Beach, Pesawaran Regency, Lampung. Aqusains. Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan, 12(3), 1563–1574.

Li, M., Bao, K., Wang, H., Dai, Y., Wu, S., Yan, K., Liu, S., Yuan, Q., dan Lu, J. 2024. Distribution and Ecological Risk Assessment of Nutrients and Heavy Metals in the Coastal Zone of Yantai, China. Water, 16(5), 760.

Patty, S. I., Yalindua, F. Y., dan Ibrahim, P. S. 2021. Analisis kualitas perairan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara berdasarkan parameter fisika-kimia air laut. Jurnal Kelautan Tropis, 24(1), 113-122.

Peng Zhang, Siying Wu, Menghan Xu, Xiaojun Luo, Xia Peng, Chaoxing Ren dan Jibiao Zhang 2023. Spatiotemporal Nutrient Patterns, Stoichiometry, and Eutrophication Assessment in the Tieshan Bay Coastal Water, China. Journal of Marine Science and Engineering, 11(8), 1602.

Pratama, A., dan Rahmawati, S. 2025. Analisis Kualitas Air Laut dan Implikasinya terhadap Produktivitas Perikanan di Pesisir Indonesia. Journal of Marine Fisheries1(1), 8-14.

Yudhistira, M. H., Karimah, I. D., dan Maghfira, N. R. 2022. The effect of port development on coastal water quality: Evidence of eutrophication states in Indonesia. Journal Ecological Economics, 196, 107415.


#IlmuKelautanUnib #yarjohan #angkatan23(Physalia physalis)

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEARIFAN LOKAL TERKAIT KONSERVASI DI SELURUH INDONESIA DAN JENIS-JENIS BIOTA LAUT YANG KONSERVASI 10 BIOTA LAUT

PERUSAAHAN ATAU (PT") MINYAK DAN GAS DI INDONESIA