TUGAS PWPT PAK YAR
LIYA/E1I023001/A
“Pengelolaan Wilayah Pesisir
Terpadu sebagai Upaya Pemberdayaan
Ekonomi di Banyuwangi”
https://athallahpublishing.com/index.php/bhaktika/article/view/12
|
Penulis
|
Ahmad Najib Rabbani |
|
Tahun/
vol:no |
2025
/ 13:23 |
|
Jurnal |
Jurnal
Inovasi dan Pengabdian |
|
Latar
Belakang |
Indonesia
memiliki potensi besar di wilayah pesisir dengan sumber daya alam melimpah
seperti ikan, mangrove, terumbu karang, hingga tambang mineral. Namun,
masyarakat pesisir masih menghadapi berbagai masalah seperti kemiskinan,
keterbatasan modal dan teknologi, serta ketergantungan pada hasil laut yang
penuh ketidakpastian. Kondisi ini menuntut adanya strategi pengelolaan yang
tidak hanya berfokus pada ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan
lingkungan. Pendekatan Integrated Coastal Zone Management (ICZM) hadir
sebagai solusi, karena menggabungkan peran pemerintah, masyarakat, dan swasta
untuk menciptakan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan, meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, serta menjaga kelestarian sumber daya alam bagi
generasi mendatang. Menurut Adi waluyo (2014). Indonesia memiliki potensi
pesisir dan laut yang sangat besar, mulai dari ikan, mangrove, terumbu karang
hingga pariwisata. Namun, banyak masyarakat pesisir masih hidup kurang
sejahtera karena sumber daya ini sering dieksploitasi berlebihan dan tidak
dikelola dengan baik. Kondisi ini menimbulkan kerusakan lingkungan dan
persaingan dalam pemanfaatannya. Karena itu, dibutuhkan pengelolaan pesisir
yang terpadu dan berbasis masyarakat agar sumber daya tetap lestari sekaligus
meningkatkan kesejahteraan nelayan dan warga pesisir. Menurut Isal Wardhana
(2020) Indonesia memiliki sumber daya pesisir yang melimpah seperti ikan,
mangrove, dan terumbu karang, namun banyak masyarakat pesisir masih hidup
miskin serta menghadapi masalah abrasi, pencemaran, dan kerusakan lingkungan.
Karena itu, pengelolaan pesisir perlu dilakukan secara terpadu dan
berkelanjutan agar alam tetap lestari sekaligus meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Menurut Aries Dwi Siswanto dan Wahyu Andy Nugraha (2016) Wilayah
pesisir dan pantai di Kabupaten Sampang merupakan daerah dinamis yang
memiliki potensi ekonomi, namun juga rentan terhadap kerusakan lingkungan
akibat perkembangan wilayah yang pesat. Studi ini bertujuan untuk
mengumpulkan informasi tentang permasalahan dan potensi yang ada di wilayah
tersebut. Permasalahan utama yang teridentifikasi meliputi kebutuhan lahan,
tumpang tindih pemanfaatan wilayah, ancaman polusi dan degradasi lingkungan,
serta penentuan zonasi. Di sisi lain, potensi yang dimiliki wilayah ini
mencakup produksi garam, wisata bahari, budidaya laut, serta pengembangan
kawasan industri dan pelabuhan. Solusi komprehensif diperlukan untuk
meminimalkan dampak negatif sambil mengoptimalkan pemanfaatan potensi yang
ada guna mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir yang terpadu. |
|
Tujuan |
1.
Mengkaji penerapan Integrated Coastal Zone
Management (ICZM) dalam pengelolaan wilayah pesisir Banyuwangi untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui akses modal, teknologi, dan
diversifikasi mata pencaharian. 2.
Mewujudkan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan
dengan melibatkan peran aktif masyarakat, pemerintah, dan sektor terkait
dalam menjaga keseimbangan antara peningkatan ekonomi dan kelestarian
lingkungan. |
|
Metode |
Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Artinya, data dikumpulkan dan
dianalisis bukan dengan angka, tetapi melalui wawancara, observasi, serta
telaah dokumen. Fokusnya adalah memahami bagaimana pengelolaan wilayah
pesisir terpadu (ICZM/Integrated Coastal Zone Management) dapat membantu
meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir di Banyuwangi. Data dikumpulkan dari
masyarakat pesisir (nelayan, pedagang, pengolah hasil laut), pemerintah
daerah (DKP, Dinas Pariwisata), serta LSM yang terlibat. Hasilnya kemudian
disajikan dalam bentuk narasi dan pola hubungan antara pengelolaan pesisir
dan dampaknya terhadap ekonomi lokal. Menurut Deasilia Indrasari (2020) Kajian
dilakukan melalui studi literatur, yaitu dengan menelaah berbagai sumber
teori dan hasil penelitian lapangan yang berhubungan dengan perlindungan
serta pengelolaan kawasan pesisir. Literatur tersebut digunakan sebagai dasar
untuk memahami permasalahan yang ada sekaligus menyusun model alternatif
pengelolaan wilayah pesisir, khususnya di Provinsi DKI Jakarta. Menurut Abdul
Rasid Salim dkk. (2011) Peneliti
menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis SWOT untuk melihat kondisi
pemanfaatan ruang kawasan pesisir. Data diperoleh melalui kuesioner dan
wawancara dengan masyarakat serta tokoh lokal. Teknik pengambilan sampel yang
dipakai adalah probability sampling, sehingga setiap anggota masyarakat
memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi responden. Total
responden berjumlah 150 orang yang tersebar di beberapa dusun. Selanjutnya,
data dianalisis untuk menggambarkan potensi, masalah, serta merumuskan
strategi pengelolaan pesisir yang berwawasan lingkungan. Menurut Kurniawati
Hapsari Ekosafitri (2017) Data yang digunakan adalah data primer berupa
kuesioner kepada stakeholder (Bappeda, Dinas Kelautan dan Perikanan,
akademisi, pelaku usaha, dan camat wilayah pesisir) serta data sekunder dari
PODES Kabupaten Jepara tahun 2014. Analisis yang digunakan ada dua, yaitu
analisis skalogram untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah berdasarkan
kelengkapan sarana dan prasarana, serta Analytical Hierarchy Process (AHP)
untuk menggali persepsi stakeholder dalam menentukan prioritas pengembangan
kawasan pesisir. Dengan metode ini, penelitian mampu memetakan perkembangan
tiap kecamatan dan menentukan fokus pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan
lokal |
|
Hasil |
1.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat
pesisir di Banyuwangi mayoritas menggantungkan hidup pada laut, khususnya
sektor perikanan. Namun, banyak dari mereka masih bekerja dalam skala kecil
dengan peralatan sederhana, sehingga penghasilan hanya cukup untuk kebutuhan
sehari-hari. Kemiskinan di wilayah pesisir juga disebabkan oleh faktor alam
(musim dan iklim), keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar. 2.
Program-program pemerintah seperti motorisasi
armada nelayan, pembangunan infrastruktur perikanan, konservasi lingkungan,
hingga pola kemitraan nelayan-perusahaan sudah dilakukan, tetapi manfaatnya
belum merata. Untuk itu, pendekatan ICZM ditawarkan sebagai solusi agar
masyarakat bisa mendapatkan peluang ekonomi yang lebih luas, mulai dari
lapangan kerja alternatif, akses modal, pemanfaatan teknologi, hingga
pendidikan dan pelatihan usaha. |
|
Pembahasan |
Pembahasan
dalam studi kasus ini menekankan bahwa masyarakat pesisir memiliki
ketergantungan tinggi pada sumber daya laut, terutama perikanan, sehingga
mereka rentan terhadap kemiskinan akibat keterbatasan modal, alat tangkap
tradisional, dan ketidakpastian musim. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah
bersama berbagai pihak telah berupaya melalui program seperti motorisasi
armada, pembangunan infrastruktur perikanan, konservasi lingkungan, serta
pola kemitraan antara nelayan dan perusahaan. Namun, hasilnya masih terbatas
karena belum sepenuhnya memberi keuntungan nyata bagi nelayan. Oleh karena
itu, pendekatan ICZM (Integrated Coastal Zone Management) menjadi penting
karena menawarkan strategi terpadu untuk memberdayakan masyarakat pesisir,
tidak hanya lewat peningkatan pendapatan, tetapi juga melalui diversifikasi
mata pencaharian, peningkatan akses modal, pemanfaatan teknologi baru,
perluasan akses pasar, dan penguatan solidaritas sosial. Pendekatan ini
menekankan kolaborasi antar pihak pemerintah, swasta, LSM, dan masyarakat
agar pengelolaan pesisir tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi
juga menjamin keberlanjutan lingkungan dan pemerataan manfaat bagi semua
pihak. Menurut Zulmiro Pinto dkk.
(2015) Pantai Kuwaru terjadi karena masyarakat menebang pohon cemara udang
untuk tambak udang. Hal ini memicu abrasi, menurunkan jumlah wisatawan, serta
berdampak pada turunnya pendapatan masyarakat dan usaha pariwisata. Rendahnya
pendidikan dan kesadaran lingkungan menjadi faktor utama, sehingga perlu
kerja sama pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kelestarian pantai.
Menurut Fadel Ikrar Jamika dkk.
(2023) Menjelaskan bahwa reklamasi pantai dan penambangan pasir di wilayah
pesisir Indonesia membawa dampak serius terhadap lingkungan dan masyarakat.
Aktivitas tersebut menyebabkan kerusakan ekosistem laut, seperti hancurnya
terumbu karang, meningkatnya abrasi, serta hilangnya habitat biota laut.
Dampaknya, hasil tangkapan nelayan menurun dan perekonomian masyarakat
pesisir ikut terdampak. Selain itu, reklamasi juga sering memicu masalah
sosial, seperti konflik lahan dan berkurangnya ruang hidup masyarakat lokal.
Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan pesisir yang terencana, pengawasan
yang ketat, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan
pesisir. Menurut Shofwan Moh. Khusaini (2008) Penelitian ini menunjukkan
bahwa nelayan di pesisir Tuban masih banyak menghadapi masalah seperti
keterbatasan modal, sarana-prasarana, rendahnya kualitas SDM, serta kerusakan
ekosistem laut. Melalui pendekatan Community-Based Management (CBM),
masyarakat mulai dilibatkan dalam perencanaan hingga pengelolaan sumber daya
pesisir. Hasilnya, kesadaran lingkungan meningkat, perilaku merusak laut
berkurang, dan kapasitas kelembagaan desa semakin kuat. Program berbasis
masyarakat ini terbukti mendorong partisipasi nelayan dalam menjaga
kelestarian laut sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan |
|
Kesimpulan |
Dari
studi ini menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir di
Banyuwangi dapat berjalan lebih efektif jika dilakukan dengan pendekatan ICZM
(Integrated Coastal Zone Management). Melalui pendekatan ini, masyarakat
pesisir tidak hanya mendapat akses lebih mudah terhadap sumber daya laut,
tetapi juga didorong untuk mengelola lingkungan secara berkelanjutan. ICZM
mampu memastikan pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir berlangsung secara
adil, merata, dan tetap menjaga kualitas ekosistem pantai. Untuk itu,
pemerintah daerah bersama pihak swasta dan masyarakat perlu membangun
kemitraan serta kerangka kerja yang jelas, sehingga kesejahteraan masyarakat
pesisir bisa meningkat tanpa merusak daya dukung lingkungan. |
|
Daftar
Pustaka |
Ekosafitri,
K. H., Rustiadi, E., & Yulianda, F. 2017. Pengembangan wilayah pesisir
pantai utara jawa tengah berdasarkan infrastruktur daerah: Studi kasus
Kabupaten Jepara. Journal of Regional and Rural Development Planning Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah dan
Perdesaan, 1(2), 145-157. Indrasari, D. 2020. Identifikasi masalah dan
model pengelolaan wilayah pesisir: Studi kasus Provinsi DKI Jakarta. Jurnal
Kajian Teknik Sipil, 5(1), 43-56. Jamika, F. I., Monica, F., Razak, A., &
Kamal, E. 2023. Pengelolaan Pesisir Dan Kelautan Dalam Studi Kasus Dampak
Reklamasi Pantai Dan Tambang Pasir Terhadap Ekosistem Laut Dan Masyarakat
Pesisir. Journal of Indonesian Tropical Fisheries (JOINT-FISH):
Jurnal Akuakultur, Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap dan Ilmu
Kelautan, 6(1), 99-109. Khusaini, M., & Badriyah, N. 2008.
Pengelolaan potensi sumberdaya kelautan sebagai upaya peningkatan pendapatan
nelayan (Studi kasus community-based management wilayah pesisir di Kabupaten
Tuban). Journal of Indonesian Applied Economics, 2(1). Pinto, Z. 2015. Kajian Perilaku Masyarakat
Pesisir yang Mengakibatkan Kerusakan Lingkungan (Studi Kasus di Pantai
Kuwaru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Provinsi
DIY). Jurnal Wilayah dan lingkungan, 3(3), 163-174. Salim, A. R., Purnaweni, H., & Hidayat,
W. 2011. Kajian Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir Kabupaten Bone Bolango Yang
Berwawasan Lingkungan (Studi Kasus Desa Botubarani Dan Desa
Huangobotu). Jurnal Ilmu Lingkungan, 9(1), 39-46. Siswanto, A. D., & Nugraha, W. A. 2016.
Permasalahan dan potensi pesisir di Kabupaten Sampang. Jurnal
Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology, 9(1),
12-16. Waluyo, A. 2014. Permodelan Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Secara Terpadu yang Berbasis Masyarakat
(Studi Kasus di Pulau Raas Kabupaten Sumenep Madura). Jurnal
Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology, 7(2),
75-85. Wardhana, I. 2020. Pengelolaan wilayah dan
sumber daya pesisir terintegrasi dalam implementasi rencana tata ruang
kawasan industri oleochemical maloy kutai timur;(sebuah telaah kritis). Jurnal
Renaissance, 5(01), 599-609. |
Komentar
Posting Komentar