5 PARAMETER KUALITAS AIR ( PH, OKSIGEN TERLARUT (DO), SUHU, KEKERUHAN DAN SALINITAS

 

Nama : Liya / E1I023001 / A.

Mata Kuliah : Metode Analisis Kualitas Air

Dosen Pengampu : Dr. Yar Johan S.Pi., M.Si.

5 PARAMETER KUALITAS AIR ( PH, OKSIGEN TERLARUT (DO), SUHU, KEKERUHAN DAN SALINITAS

  • 1.     Parameter Ph

pH adalah salah satu indikator kualitas air yang menunjukkan seberapa asam atau basahnya suatu badan air, dengan rentang nilai antara 0-14. Nilai pH sangat krusial karena mempengaruhi langsung kehidupan makhluk air, reaksi kimia, dan ketersediaan nutrisi dalam air. Menurut Al-Asadi, (2016) Air dengan pH yang terlalu asam atau terlalu basa dapat menghambat pertumbuhan dan keberlangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya, sedangkan pH yang hampir netral (sekitar 6,5-8,5) biasanya dianggap optimal untuk kebanyakan organisme air dan aktivitas lainnya yang berkaitan dengan air.

Pengukuran pH air dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat seperti pH meter digital atau kertas pH sebagai pilihan yang lebih mudah. Peralatan dan bahan yang biasa digunakan meliputi pH meter, larutan buffer untuk menyesuaikan alat, botol untuk sampel air, serta perlengkapan tulis atau lembar untuk mencatat data. Proses pengumpulan data dilakukan dengan mengambil sampel air dari lokasi penelitian, kemudian pH diukur baik di lokasi pengambilan (in situ) atau di laboratorium setelah sampel dipindahkan menggunakan wadah yang tertutup. Menurut Efendi dkk, (2024) Analisis data pH dilakukan dengan cara membandingkan hasil ukur dengan standar kualitas air yang sudah ditetapkan, agar dapat diketahui apakah kondisi air tersebut masih baik, tercemar, atau berpotensi membahayakan makhluk hidup dan lingkungan perairan.

Contoh Gambar alat Parameter Ph:


  • 2.     DO Meter (Oksigen Terlarut)

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) adalah jumlah oksigen yang terlarut di dalam air dan berperan penting dalam mendukung proses respirasi organisme akuatik serta menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Konsentrasi DO dipengaruhi oleh suhu, aktivitas fotosintesis, dekomposisi bahan organik, dan pergerakan air (Wetzel & Likens, 2000). Pengumpulan data DO dilakukan menggunakan alat DO meter yang bekerja dengan sensor elektrokimia atau sensor optik untuk mendeteksi kadar oksigen dalam air secara langsung. Pengukuran umumnya dilakukan secara in situ dengan mencelupkan sensor ke dalam badan air hingga pembacaan stabil, sehingga nilai yang diperoleh mencerminkan kondisi aktual perairan pada saat pengamatan. Kalibrasi alat sebelum pengukuran menjadi langkah penting untuk menjamin ketelitian dan keandalan data yang dihasilkan.

Analisis data oksigen terlarut dilakukan dengan mengolah hasil pengukuran DO untuk mengetahui kondisi kualitas air di lokasi penelitian. Data DO dianalisis secara deskriptif dengan menentukan nilai minimum, maksimum, dan rata-rata, kemudian dibandingkan dengan standar baku mutu kualitas air yang berlaku untuk menilai kelayakan perairan bagi kehidupan biota. Menurut Chapra dan Canale (2015), kadar DO yang rendah sering dikaitkan dengan tingginya beban bahan organik dan aktivitas mikroorganisme yang mengonsumsi oksigen selama proses dekomposisi. Oleh karena itu, analisis DO tidak hanya menggambarkan ketersediaan oksigen, tetapi juga dapat digunakan sebagai indikator tingkat pencemaran dan kesehatan ekosistem perairan secara keseluruhan.

Salah satu contoh alat DO Meter

  • 3.     Suhu

Suhu air merupakan parameter fisika kualitas air yang menunjukkan tingkat panas atau dinginnya suatu perairan dan berpengaruh langsung terhadap reaksi kimia, aktivitas biologis, serta distribusi organisme akuatik. Perubahan suhu dapat memengaruhi laju metabolisme organisme, proses fotosintesis, dan kelarutan gas dalam air, sehingga suhu sering digunakan sebagai indikator awal perubahan kondisi lingkungan perairan (Dallas dkk., 2012). Pengumpulan data suhu dilakukan menggunakan alat ukur suhu seperti termometer air atau sensor suhu digital yang umumnya terintegrasi dalam multi-parameter water quality meter. Pengukuran dilakukan secara in situ dengan mencelupkan sensor ke dalam air pada kedalaman tertentu dan menunggu hingga nilai suhu stabil agar hasil yang diperoleh merepresentasikan kondisi aktual perairan.

Analisis data suhu dilakukan dengan mengolah hasil pengukuran untuk mengetahui nilai minimum, maksimum, dan rata-rata suhu air pada lokasi penelitian. Data suhu kemudian dibandingkan dengan standar kualitas air atau kisaran suhu optimal bagi organisme perairan untuk menilai kelayakan kondisi lingkungan. Menurut APHA (2017), suhu air juga dianalisis bersamaan dengan parameter lain karena perubahan suhu dapat memengaruhi hasil pengukuran parameter kualitas air lainnya, seperti oksigen terlarut dan pH. Oleh karena itu, analisis suhu berperan penting dalam interpretasi kondisi fisik perairan serta dalam evaluasi potensi tekanan lingkungan terhadap ekosistem akuatik.

Salah Satu contoh alat ukur suhu 

  • 4.     Kekeruhan

Kekeruhan merupakan parameter fisika kualitas air yang menunjukkan tingkat kejernihan air akibat adanya partikel tersuspensi seperti lumpur, pasir halus, bahan organik, dan mikroorganisme. Tingkat kekeruhan yang tinggi dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam perairan sehingga mengganggu proses fotosintesis dan menurunkan kualitas habitat organisme akuatik (Bilotta dan Brazier, 2008). Pengumpulan data kekeruhan dilakukan menggunakan alat ukur kekeruhan seperti turbidity meter atau nephelometer yang bekerja berdasarkan prinsip hamburan cahaya oleh partikel dalam air. Pengukuran biasanya dilakukan secara in situ dengan mencelupkan sensor atau menggunakan sampel air yang dimasukkan ke dalam tabung khusus alat, kemudian nilai kekeruhan dibaca dalam satuan NTU (Nephelometric Turbidity Unit).

Analisis data kekeruhan dilakukan dengan mengolah hasil pengukuran untuk mengetahui kisaran dan tingkat kekeruhan air pada lokasi penelitian. Nilai kekeruhan yang diperoleh selanjutnya dibandingkan dengan standar kualitas air yang berlaku untuk menilai kondisi perairan dan tingkat pencemarannya. Menurut World Health Organization (WHO, 2017), kekeruhan yang tinggi sering berkaitan dengan meningkatnya bahan tersuspensi dan potensi pencemaran, serta dapat memengaruhi efektivitas proses pengolahan air. Oleh karena itu, analisis kekeruhan penting dilakukan sebagai indikator awal kualitas fisik perairan dan sebagai dasar evaluasi dampak aktivitas alami maupun aktivitas manusia terhadap lingkungan perairan.

Salah satu contoh alat mengukur kekeruhan.


  • 5.    Salinitas

Salinitas adalah parameter fisika-kimia kualitas air yang menunjukkan kadar garam terlarut di dalam perairan, yang umumnya dinyatakan dalam satuan ‰ (per mil) atau PSU (Practical Salinity Unit). Salinitas berperan penting dalam menentukan distribusi dan adaptasi organisme akuatik, terutama di perairan laut dan estuari, karena setiap organisme memiliki toleransi salinitas yang berbeda (Millero, 2006). Pengumpulan data salinitas dilakukan menggunakan alat ukur seperti salinity meter, conductivity meter, atau CTD (Conductivity, Temperature, Depth) yang mengukur daya hantar listrik air sebagai dasar perhitungan nilai salinitas. Pengukuran biasanya dilakukan secara in situ dengan mencelupkan sensor ke dalam air pada kedalaman tertentu hingga nilai stabil, sehingga data yang diperoleh mencerminkan kondisi salinitas perairan pada saat pengamatan.

Analisis data salinitas dilakukan dengan mengolah hasil pengukuran untuk mengetahui kisaran, nilai rata-rata, dan variasi salinitas pada lokasi penelitian. Data salinitas selanjutnya dibandingkan dengan kisaran salinitas alami atau standar kualitas perairan sesuai dengan jenis ekosistem yang dikaji, seperti laut, estuari, atau perairan tawar. Menurut Parsons dkk. (1984), perubahan salinitas yang signifikan dapat memengaruhi proses osmoregulasi organisme serta struktur komunitas biota perairan. Oleh karena itu, analisis salinitas sangat penting untuk menilai stabilitas lingkungan perairan dan sebagai indikator adanya pengaruh masukan air tawar, penguapan, atau aktivitas manusia terhadap sistem perairan.


Referensi

Al-Asadi, S. A. 2016. A study of pH values in the Shatt Al-Arab River (southern Iraq). International Journal of Marine Science, 6.

APHA. 2017. Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater (23rd ed.). American Public Health Association.

Bilotta, G. S., & Brazier, R. E. 2008. Understanding the influence of suspended solids on water quality and aquatic biota. Water research, 42(12), 2849-2861.

Chapra, S. C., & Canale, R. P. 2011. Numerical methods for engineers (Vol. 1221). New York: Mcgraw-hill.

Dallas, H. F., & Rivers-Moore, N. A. 2012. Critical thermal maxima of aquatic macroinvertebrates: towards identifying bioindicators of thermal alteration. Hydrobiologia, 679(1), 61-76.

Efendi, J., Hilmi, A., & Ulfa, A. M. 2024. Analisis Kualitas Air Tanah di Desa Beru Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat. Jurnal Teknik Sipil, 20(1), 63-74.

Millero, F. J. 2006. Chemical Oceanography (3rd ed.). CRC Press.

Parsons, T. R., Maita, Y., & Lalli, C. M. 1984. A Manual of Chemical and Biological Methods for Seawater Analysis. Pergamon Press.

Wetzel, R. G., & Likens, G. E. 2000. Limnological Analyses, 3rd. Printed by Springer Sciences, Business Media. INC. New York, USA.

World Health Organization (WHO). 2017. Guidelines for Drinking-water Quality (4th ed.). WHO Press.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEARIFAN LOKAL TERKAIT KONSERVASI DI SELURUH INDONESIA DAN JENIS-JENIS BIOTA LAUT YANG KONSERVASI 10 BIOTA LAUT

PERUSAAHAN ATAU (PT") MINYAK DAN GAS DI INDONESIA

Analisis Kualitas Perairan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia Air Laut